belajar yuk!!

Just another Blogdetik.com weblog

MEMPORNOKAN PERFILMAN INDONESIA

Deni S. Jusmani

Pengantar
Sepertinya, kebijakan pemerintah untuk membatasi ruang gerak film Hollywood di Indonesia, tidak diimbangi dengan pembatasan ruang gerak impor aktris asing. Kenapa? Apakah aktris lokal tidak mampu “menjual” dan tidak se”erotis” artis impor? Atau, memang menyangkut kualitas yang masih perlu banyak belajar kepada artis impor? Persoalannya, apakah dengan artis impor yang makin gencar dilakukan, akan berdampak pada perbaikan kualitas film yang mendidik di Indonesia? Lebih jauh lagi, impor artis erotis lebih mengesankan pemasaran dan pencitraan tubuh daripada persoalan kualitas berakting. Pada akhirnya, pencitraan erotis tetap menjadi ujung tombak wajah dan perkembangan film di Indonesia.
Ditengah serbuan film-film asing di Indonesia, membuat kreator film Indonesia harus berjuang ekstra keras, agar film yang diciptakan mampu diterima oleh penonton. Berbagai cara dilakukan untuk menciptakan film-film yang dianggap mampu dan dapat diterima orang banyak, termasuk salah satunya dengan menggunakan aktris asing (porno). Langkah yang sebetulnya salah besar, mengingat potensi aktor dan aktris lokal masih tersedia. Kebijakan pembatasan film asing juga tidak diimbangi dengan serius oleh pemerintah dalam banyak aspek. Seharusnya, (jika mau serius) pada media televisi atau pun media lainnya, juga dibatasi untuk memutar dan menayangkan film asing.

Impor Kualitas atau Popularitas?
Masuknya teknologi semacam televisi di Indonesia, juga diiringi dengan munculnya kebudayaan asing didalamnya, termasuk film. Tahun 1980-an, film asing telah ada diperputaran film Indonesia, mulai film anak-anak sampai film untuk remaja dan golongan dewasa. Ditengah sepinya produksi film Indonesia pada tahun 1990-an, film impor seakan memberikan warna dan tentu saja kemudian membentuk komunitasnya. Secara daya khayal dan ide cerita, film lokal tidak kalah dengan film asing, tetapi secara teknik animasi, efek visual, dan pengemasan akhir, memang perlu banyak belajar. Asrul Sani pernah mengatakan, bahwa film Indonesia itu lebih populer karena keburukannya.
Artis asing Maria Ozawa (Miyabi), pada awal karirnya dikenal sebagai seorang aktris film dewasa Jepang (Adult Video), muncul pada Rumah Produksi Maxima Pictures dalam film komedi Indonesia berjudul Menculik Miyabidan film Hantu Tanah Kusir. Selain Miyabi, muncul Terra Patrick (film Rintihan Kuntilanak Perawan), Rin Sakuragi (film Suster Keramas), Sora Aoi (film Suster Keramas 2), selanjutnya giliran pemain film dewasa asal Amerika Serikat, Sasha Grey yang akan dikontrak oleh produser K2K Production, KK Dheraj, untuk bermain dalam film horor komedi terbarunya. Beberapa nama tersebut adalah aktris-aktris yang populer dalam film porno, tidak saja mereka “dipasarkan” kepopulerannya, lebih dari itu, merupakan bentuk ketidakmampuan kreator film lokal untuk membendung ideologi “porno” berkembang di Indonesia. Persoalan pokok bukan terletak pada aktris asing atau lokal, tetapi pada kualitas film itu sendiri, yang terkadang mengangkat tema-tema dangkal, umum, monoton, bahkan membosankan. Tema horor (berbau erotis), percintaan (yang naif), dan pencitraan terbalik dari realita sosial, membentuk persepsi masyarakat mengenai film Indonesia. Karena, film merupakan pencerminan sebuah masyarakat, ideologi kreator, dan wujud mentalitas bangsa. Tentu, bangsa ini tidak ingin, jika citra porno yang melekat pada aktris asing, juga melekat pada perfilman dan mentalitas masyarakat Indonesia.
Film Indonesia belum memiliki identitas dan ideologi yang mapan, tidak seperti film Hollywood yang telah lebih dulu memilikinya. Film (termasuk FTV) dan sinetron di Indonesia menganut azas musiman. Tayangan-tayangan yang seringkali meniru dan mencontoh, mengabaikan potensi lokal yang sebetulnya juga layak dipasarkan. Oleh karena ideologi film yang masih samar, menghasilkan film-film lokal yang serba absurd dan mengada-ada.

Ideologi yang Menjemukan?
Kenapa menjemukan? Karena terjadinya pergeseran selera dan budaya menonton; terbatasnya daya cipta kreator film, efek visual dan animasi terlalu sederhana, serta alur cerita dan tema film yang monoton. Pada aspek lain, film Indonesia terlalu mudah di tebak plot ceritanya, super hiperbolis, mengangkat hal-hal yang tidak penting, dan erotisme terkadang lebih dominan. Para penonton telah dibentuk berdasarkan tontonan erotis, sehingga melupakan, bahkan mengabaikan pesan-pesan positif yang (mungkin) tersirat dalam film.
Film Indonesia adalah bentuk mimpi produser yang menjemukan dan sekaligus menjerumuskan. Mimpi-mimpi yang masih harus dibenahi dan disadarkan, betapa film mistik dan horor erotis sangat membosankan dan terkadang terlalu mengada-ada. Tidaklah heran, jika minat penonton terhadap film Indonesia belum memuaskan. Lemahnya minat masyarakat terhadap film Indonesia, dapat dirumuskan karena tiga hal, yaitu: (1) pergeseran selera dan budaya anak muda; (2) rendahnya apresiasi terhadap film festival dan serius; (3) kurang dukungan pemerintah untuk perbaikan kualitas. Memang, kelompok pecinta film horor erotis tersebut masih ada, tetapi tidak sebanding dengan kelompok pecinta film asing. Masyarakat perlu tontonan yang berkualitas.
Ideologi pasar dengan mengabaikan pesan moral muncul pada beberapa film di Indonesia. Orientasi pasar dan mencari keuntungan (dengan meminjam kepopuleran) yang telah melekat pada aktris asing, menjadi tanda kemunduran film-film di Indonesia. Aktris (atau pun mantan) film porno, akan membentuk persepsi negatif terhadap pencitraan film Indonesia, yang dikhawatirkan, merefleksi dan membaur pada konteks masyarakat sosial. Mungkin, impor artis asing (porno) ini akan berdampak lakunya film yang dibintangi, tetapi tidak serta merta membuat penonton menyukai kualitas film yang dihasilkan. Aromanya lebih kental pornografi, daripada persoalan etika dan pesan moral.

Penutup
Masih ada kesempatan untuk berbenah, jika memang ingin memperbaiki film di Indonesia pada masa mendatang. Tentu, tidak semua kreator atau pun produser film di Indonesia mengabaikan aspek moral dan etika. Persoalan pokok, bagaimana membentuk pemahaman positif pada masyarakat terhadap perkembangan film. Impor aktris (apalagi porno) tidak akan menyelesaikan dan lebih memperkeruh suasana perfilman Indonesia. Menggali dan memperbaiki ide cerita film, merupakan hal mutlak untuk dilakukan, sehingga masyarakat tidak memandang film Indonesia atau pun tontonan yang ada adalah replika, saduran, atau pun duplikasi dari yang sudah ada.

Idi Subandy Ibrahim, Budaya Populer sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer (Yogyakarta: Penerbit Jalasutra, 2007), 171.
Lihat, http://entertainment.kompas.com/read/201…
Idi Subandy Ibrahim, 173.
Idi Subandy Ibrahim, 177-178.

SENI DALAM PEMBELAJARAN DI SEGALA JENJANG INSTITUSI PENDIDIKAN FORMAL DI ACEH:

Refleksi 16 Tahun Pendidikan dan Pengajaran di Jurusan Pendidikan Seni (Kesenian/Sendratasik), Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)

Fri, 08/14/2009

IKHTISAR
10 Mei 2009, deJure, Pendidikan dan Pengajaran Strata -1 (S-1) Pendidikan Seni (Kesenian/Sendratasik) FKIP, Unsyiah genap berusia 16 Tahun. Sebuah angka yang mensiratkan jenjang transisi menuju dewasa bagi manusia; serupa halnya dengan baya dinamika Jurusan Pendidikan Seni Syiah Kuala ini, menuju kedewasaan diri sebagai yang hingga kini adalah masih satu-satunya lembaga pendidikan tinggi kesarjanaan seni di Aceh. Read the rest of this entry »

SINKRONISASI PEMBELAJARAN SENI RUPA DAN KOMPUTER

Oleh Widdy Endrayanto

Guru Yayasan UK Petra

Abstrak

Anticipation education is education which cares of self optimum by continuing evaluation and development. The school should ask the teachers to continue study not only one subject. Synchronization system is very effective for teachers to supply the student’s knowledge, skill and ability. Hopefully the student can be motivated by this system. Example for synchronization implementation is to bundle of art lesson which have art principles with the computer lesson which have graphic design tool.

Key Word: Synchronization, The rules of the art, Graphic design, Creativity. Read the rest of this entry »

Pendidikan Kesenian di Taman Kanak-kanak

Maret 18, 2008 by Pakde sofa

Konsep seni secara utuh mencakup: (a) Pengertian seni, (b) Sifat dasar seni, (c) Unsur-unsur karya seni, dan (d) Ragam seni. Seni adalah kegiatan manusia dalam mengekspresikan pengalaman hidup dan kesadaran artistiknya yang melibatkan kemampuan intuisi, kepekaan indriawi dan rasa, kemampuan intelektual, kreativitas serta keterampilan teknik untuk menciptakan karya yang memiliki fungsi personal atau sosial dengan menggunakan berbagai media.
Pengertian Seni bersifat majemuk, dinamis, bergerak bebas, terbuka mencakup berbagai kecenderungan individual yang khas. Banyak faktor yang menentukan batasan atau makna seni, seperti: kurator, kritikus, pasar, kondisi kultural, dan lain-lain. Read the rest of this entry »

Pembelajaran Seni Rupa pada pendidikan Dasar dan Menengah

Seni rupa merupakan hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. Seni rupa berperanan dalam memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia maupun semata-mata memenuhi kebutuhan estetik. Karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan (indah, unik, atau kegetiran) serta memiliki kemampuan untuk membangkitkan pikiran dan perasaan. Dengan memahami makna tentang bentuk-bentuk seni rupa, akan diperoleh rasa kepuasan dan kesenangan. Read the rest of this entry »

STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING

(Suatu Strategi Pembelajaran Berbasis Student Centred)

oleh : Drs. Hartono, M.Pd

A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung. Read the rest of this entry »

MENGENAL MEDIA PEMBELAJARAN

Oleh: Ardiani Mustikasari, S. Si, M. Pd

A.      LATAR BELAKANG

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Read the rest of this entry »

EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN

Oleh: Ardiani Mustikasari, S. Si, M. Pd

Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran, karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: Read the rest of this entry »

BERBAGAI JENIS MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.

Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media.

Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak): Read the rest of this entry »